Activity,  blogging,  cinta,  menulis,  pribadi,  Real Story,  Relationship

Keikhlasan Yang Mahal Harganya

Mengapa mengikhlaskan sungguh sangat sulit dan rumit seperti ini, yaa? Seberapa pun kuatnya aku mempertahankan cinta ini, pada akhirnya aku yang harus mundur. Seberapa pun aku bertahan dengan keyakinanku bahwa dia juga mencintaiku—sebesar aku mencintainya—pada akhirnya aku dan dia tetap tak bisa bersama. Pada akhirnya, aku yang terpaksa harus mengikhlaskan—meski bagaimana pun kerasnya aku menolak ini semua. Dan, aku belum (tidak siap) jika harus jauh darinya—apapun bentuknya, aku tidak akan pernah siap. 

Ikhlas yang sesungguhnya ketika kau benar-benar terlepas dari hal apapun yang mengurungmu.

– my mind

Bagiku, tidak hanya mengikhlaskan yang begitu sulit untuk bisa kujalani, melainkan aku sudah tidak akan sanggup lagi jika harus berperang dengan hatiku sendiri tentang sebuah perasaan yang tidak bisa kumiliki. Telah bertahun-tahun lamanya aku melakukan ini dan sekilas kupikir aku bisa melakukannya, tapi ternyata tidak. Aku tidak sanggup. Terlalu berat bagi hatiku untuk bisa menopang perasaan yang teramat besar ini.

Teramat mahal untuk harga yang harus kubayar demi sebuah keikhlasan.

Aku toh tidak peduli jika ada siapapun yang mengatakan bahwa aku hanya seorang pemimpi yang minta diberi belas kasihan. Aku tidak butuh di belas kasihani; aku hanya butuh sesuatu yang bisa menolongku menyampaikan perasaan ini, agar aku tidak tersiksa dalam caraku mengikhlaskan.

Mengikhlaskan pun aku tidak akan bisa sepenuhnya. Ada sebuah perasaan yang sungguh sangat berat yang harus aku tanggung dalam relung hati ini.

Pun, tak akan ada yang bisa menjawab bagaimana aku harus mengatasi perasaan ini sendirian. Sekali waktu, meski aku telah berusaha keras mencoba dengan berbagai macam cara, pada ujungnya semua akan melukaiku sendiri dan menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Aku sendiri tak ingin terluka lagi; terlalu lelah terluka hingga aku memutuskan untuk menyerah.

Sekali waktu saat aku benar-benar telah berusaha keras untuk membuat bagaimana kata ikhlas itu terdengar normal, pada saat yang sama pula-lah kau membuatku merasa bahwa keputusanku mengikhlaskan itu tak perlu kuambil—karena baginya aku masih miliknya, meski harus berjalan dengan terseok namun aku tetap tidak peduli, asalkan aku masih bisa bersamanya walau mungkin hanya berupa serpihan-serpihan. Sampai suatu ketika aku merasa bahwa semuanya terasa seperti yang seharusnya kuinginkan—bahwa memang seharusnya seperti inilah ketika dua insan yang saling mencinta bersatu meski bukan dalam sebuah ikatan.

Kurasa aku tak akan lagi memikirkan tentang sebuah ikatan yang membuatku tersiksa seorang diri. Rasanya itu tak penting lagi—karena bagiku yang terpenting adalah bersamanya.

Juga, bahwa sebuah ikatan bagiku sekilas terdengar hanya seperti angin sepoi saja saat cinta yang kurasakan berubah menjadi gumpalan perasaan yang semakin besar.

Yang akhirnya membuat kata ikhlas itu tidak lagi nyata bagiku…

—my mind

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please, do not copy!!