cinta,  daily,  Real Story,  Relationship

The Last : Manakala Tak Ada Yang Lain Selain Kamu

Beberapa waktu lalu, dikarenakan ponselku terdapat sedikit masalah, aku pun menjual ponsel tersebut dan menggantinya dengan yang baru—tidak baru juga sih, karena aku pun membelinya dari salah satu toko barang bekas siap pakai. Oh ya, ponselku tadinya iPhone, kemudian aku mencoba membeli ponsel bekas tersebut dengan sistem operasi Android; dimana praktis saja keseluruhan data, termasuk nomor kontak dll pun berbeda. Malahan ada beberapa kontak yang tadinya ada muncul di whatsapp ketika aku memakai iPhone, di whatsapp Android ini tidak ada. Maka, sudah pasti beberapa kontak tersebut bisa dikatakan hilang.

Tangkapan Layar Si Bucin

Itu dari sisi kontak. Namun, yang akan aku bicarakan ini adalah dokumentasi yang lain—yang tak bukan dan tak lain adalah foto, video, dan lainnya yang notabene-nya berupa media.

Aku tidak menyangka bahwa (entah banyak atau sedikit) sebagian besar foto-foto dan video-video kenanganku masih ada disana!! Foto-foto dan video-video bersama mereka yang tak bisa ku miliki masih ada di ponsel baruku yang kini ada di tanganku ini. Aku sendiri sudah tidak lagi ingat bahwa aku pernah merekam momen-momen itu. Tapi sih untungnya, media-media itu semua menunjukkan tanggal, bulan, beserta tahun pengabadiannya—sehingga aku tak perlu repot-repot mengingatnya secara berlebih. Karena terkadang memang orang tak akan pernah ingin benar-benar mengingat kapan mereka mengalami suatu kenangan—terutama jika itu kenangan buruk.

Ada satu dari sekian banyak foto dan video kenangan dari sang mantan terindah; gambar tangkapan layar sebuah obrolan dari platform Line Chat dengannya kala itu. Tak urung kubuka dan kubaca ulang tangkapan layar itu. Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri saat membaca chat itu lagi. Sayangnya, platform chat Line tersebut tidak menginformasikan tanggal chat di jendela obrolan, hanya waktu saja yang tampak disana.

Tuhan, betapa aku bucin banget yaa waktu itu? Sampe-sampe ketika akun dia udah nggak aktif—alias off—aku masih aja tetep nge-chat.

— My mind —

Seperti itulah. Rasanya jika kubaca kembali sekarang—sekarang pun masih bersamanya, meski dalam keadaan yang jauh berbeda—ada setitik perasaan malu dengan diriku sendiri. Tapi, aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Keadaan lah yang membuatku se-bucin itu. Aku begitu sungguh tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia mungkin saja bosan denganku—atau entah apa. Toh, hingga saat ini aku dan dia tidak bisa memungkiri bahwa cinta itu masih ada—mungkin bentuknya sedikit berbeda. Bukan lagi cinta yang digadang-gadang akan menuju ke kursi pelaminan, tapi lebih kepada bentuk cinta yang lain.

Aku sendiri bingung. Hanya satu hal yang aku pahami bahwa Tuhan masih mengijinkanku bersamanya—mungkin memamg hanya sebatas begini-begini saja—tidak lebih.

— MY MIND

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please, do not copy!!