Activity,  blogging,  covid-19,  daily,  Education,  Healthy,  hidup,  kasus umum,  kisah,  motivasi,  olahraga,  pandemi,  pengetahuan,  pribadi,  Problem Solving,  Real Story,  Relationship,  wabah

Covid-19 Survivor

Beberapa waktu kemarin, rasanya aku seperti hidup di alam lain. Means, aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa—saat menyadari bahwa aku terinfeksi covid-19. Seketika aku merasa duniaku seakan runtuh dan perasaanku hancur berkeping-keping. Selama ini aku selalu concern dengan pemberitaan di media masa tentang wabah berbahaya ini dan aku tidak pernah lepas ataupun lalai dari protokol 3M yang dianjurkan oleh pemerintah.

Tapi, apalah daya, virus berbahaya itu nampaknya suka denganku. Ia menyapaku dan membuatku harus terisolasi mandiri di rumahku sendiri selama 14 hari. Awalnya aku tidak mau menginformasikan kepada ketua RT/RW tempatku tinggal, karena mengingat lingkungan tempatku tinggal ini begitu khawatir tentang sesuatu hal yang sifatnya viral seperti itu—terlebih pemberitaan di media kaca dan disertai film-film yang seolah menggambarkan bahwa virus ini sungguh berbahaya dan belum ada obatnya. Memang benar berbahaya, tapi yang orang-orang selama ini perhatikan hanya dari sisi negatifnya saja—bahwa ini mematikan dan jika melihat jumlah kematian yang disebabkannya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Lantas, mereka skeptis dan menganggap bahwa si penderita harus dijauhi. Inilah yang membuatku akhirnya berpikir duakali ketika akan menginformasikan tentang keadaanku dan keluarga kecilku kepada orang-orang di sekitar tempatku tinggal.

Tapi kemudian, pada suatu malam ada beberapa orang—yang salah dua di antaranya adalah ketua RT dan RW setempat—mengetuk pintu rumahku. Tujuan mereka tak bukan dan tak lain adalah menanyakan tentang kebenaran perihal kondisiku pascaswab yang aku lakukan di salah satu Rumah Sakit di Surabaya.

Alhasil, mau tidak mau aku pun akhirnya mengakui bahwa aku memang terinfeksi. Tapi, karena kondisiku hanya OTG (Orang Tanpa Gejala), maka pihak puskesmas pun hanya menyarankan bahwa aku cukup isolasi mandiri saja di rumah dengan tidak keluar rumah selama 14 hari sampai kondisiku pulih. Lantas, tidak sedikit pula yang menanyakan kenapa aku tidak diisolasi di rumah sakit saja?—mungkin aku tidak perlu susah-susah menjawabnya karena ketika aku akan menjawabnya, banyak diberitakan bahwa seluruh rumah sakit di Surabaya maupun Sidoarjo penuh karena pasien covid-19 dan sudah tidak bisa lagi menampung pasien baru.

Oke, aku pasrah. Aku hanya mengatakan bahwa jika memang aku harus mengisolasi diri di rumah, para pihak aparat kampung seharusnya bisa memberikan kompensasi, atau apalah. Karena logikanya, jika aku tidak diperbolehkan keluar rumah, bagaimana aku bisa cari makan?

Akhirnya, mereka dan para warga sepakat untuk memberiku (dan seisi rumah) supply makanan pagi, siang, dan malam selama masa karantina. Baiklah, aku bisa tenang. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah bayiku. Bagaimana dengan bayiku?—dia belum bisa makan makanan orang dewasa. Aku pun kembali menanyakan permasalahan ini kepada pihak aparat kampung. Dan, untuk ini pun, mereka siap menyediakannya persediaan bubur bayi untuk dua minggu.


Gejala

Pertama aku informasikan tentang kondisiku yaa—seperti diketahui bahwa penderita covid-19 ini tidak semua orang memiliki gejala yang sama. Jika yang terjadi padaku, aku tidak merasakan apa-apa. Aku merasa sehat-sehat saja. Hanya saja, memang pada awalnya aku hanya flu biasa (tanpa batuk), kemudian 4-5 hari berikutnya aku tidak bisa mencium aroma apapun.

Jadi, tepatnya pada hari ke-5 aku tidak bisa merasakan indera penciuman dan perasaku berfungsi. Aku tidak bisa mencium aroma harum, ataukah busuk, atau apapun lah. Juga, ketika makan aku tidak bisa merasakan makanan ini enak atau tidak, semuanya hambar.

Kemudian, pada hari ke-6 aku mulai merasakan tubuhku terus-menerus meriang saat menjelang petang hingga sekitar pukul dua pagi. Aku juga merasa gelisah dan tidurku tidak bisa nyenyak. Tubuhku juga seolah seperti panas dan menggigil setiap kali aku mandi (padahal suhu air kamar mandiku tidak berubah), dan rasa panas ini tidak kunjung reda selama berhari-hari walaupun aku sudah meminum obat penurun panas.

Jika, kalian merasakan gejala seperti itu langsung lakukan swab agar kalian bisa segera menyadari bahwa kalian sudah terinfeksi. Sehingga, tidak perlu sampai membuat mental kalian drop. Tetap tenang dan pikirkan pengobatan yang menurut kalian cocok yaa.


Pengobatan

Perlu diketahui bahwa suspect covid-19 ini tidak ada obat khusus. Salah jika orang bertanya, “covid-19 itu obatnya apa?”—karena jawabannya jelas, “there’s no medicine!

Lalu, bagaimana bisa sembuh? Nah, itu yang akan saya bahas disini. 

Selama masa karantina itu aku memang merasa tertekan dan stress, takut, dan entah apa lagi yang aku rasakan. Semua campuraduk jadi satu. Selain aku ada bayi di rumah, aku juga ada suami, dan mereka bisa saja tertular dari aku. Sedangkan, biaya swab tidaklah murah. Jika aku harus menanggung biaya mereka berdua jelas aku tidak sanggup. Sementara pihak puskesmas tidak juga memberikan klarifikasi mengenai swab gratis bagi keluarga pasien covid-19. Di sinilah sebenarnya aku tidak boleh stress karena akan menurunkan imunitas tubuh. Dan itu sungguh berbahaya. Jika kalian rajin membaca tentang pemberitaan pasien covid-19, yang ditekankan oleh para medis adalah daya imunitas tubuh yang harus tetap stabil. Virus akan bisa dilawan oleh antibodi tubuh, dan antibodi itu datangnya dari daya tahan tubuh kita sendiri.

Selain tetap mongkonsumsi vitamin C setiap hari. Kalau yang aku lakukan beberapa waktu lalu, aku meminum vitamin C 1000mg—jika yang kalian beli tertanda 500mg, artinya kalian harus minun dua butir—setiap pagi dan sebelum tidur.

Kemudian, apa lagi? Secara kebetulan, Indonesia adalah negara yang kaya akan rempah-rempah, kan? Manfaatkan saja rempah-rempah itu untuk membuat jamu yang terbuat dari temulawak. Meminum jamu temulawak cukup sehari sekali.

Aku juga, aku meminum susu dan protein-protein—karena aku tidak suka makan yang aneh-aneh, maka untuk protein, aku hanya makan ikan. Untuk susu sendiri (aku tidak promosi yaaa, aku cuma menjabarkan apa yang aku konsumsi saja demi kesembuhanku), aku meminum susu murni Bear Brand. Kalau ini sih, aku sering melihat video tiktok teman-teman yang terpapar covid-19 dan juga aku membaca bermacam-macam artikel yang berkaitan dengan itu. Mungkin, jika melihat apa yang dilakukan tiap-tiap orang demi survive dari penyakit ini sih berbeda-beda yaa (ada beberapa dari mereka yang disertai meminum cuka apel, dll, tapi kalau aku nggak minum itu), tapi intinya sama: harus tetap jaga kondisi tubuh agar jangan sampai drop.

Macam-macam minuman berkhasiat aku minum sih, termasuk yang sekilas terdengar tidak masuk akal, yaitu teh hangat dicampur dengan minyak kayu putih. Aneh yaa? Buktinya ampuh kok. Dan, ketika masuk ke tenggorokan rasanya seperti minum minyak kayu putih tapi manis.

Itu untuk segi minuman yaa. Kalau untuk makanannya apa aja? Yaa pokoknya empat sehat lima sempurna. Karena aku vegetarian, aku tidak makan daging sapi yaa, aku ganti dengan bakso atau yang sudah diolah. Jadi, dagingnya tidak terlalu berasa ketika dikunyah. Sementara, untuk sayur-sayuran dan buah-buahan, terserah kalian sih—kalau mau ya silahkan dikonsumsi, kalau tidak ya tidak apa-apa. Kalau aku kemarin, aku hanya mengkonsumsi sayuran bayam saja, tanpa buah (aku tidak suka buah).

Lalu yang terakhir, tetap sama seperti yang dianjurkan para dokter, yaitu berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi pukul delapan hingga delapan tiga puluh atau boleh lebih. Boleh disertai olahraga atau hanya jalan-jalan juga tidak apa-apa (tidak perlu sampai harus olahraga yang ekstrim yaa). Kalau yang aku lakukan kemarin sih, aku hanya berjemur setengah jam saja, cuma duduk-duduk di atas box culver di depan rumahku sambil nge-game di ponselku, hehe.

Aku terkesan santai sih, Guys. Aku cuma berusaha membahagiakan diriku sendiri, sehingga aku tidak perlu sampai stress. Itu saja kuncinya sebenarnya. Jangan sampai kalian stress yang bisa menyebabkan kondisi imun tubuh kalian menurun. Jadi, dengan kata lain, kalian boleh melakukan apa pun yang kalian suka asalkan kalian tidak boleh stress sambil tetap melakukan pengobatan agar virus di tubuh kalian mati.

Oh iya, tapi ini hanya selingan yaa, selama aku sakit kemarin, aku berpikir dan menganggap bahwa covid-19 yang aku derita ini seperti flu biasa. Jadi, ketika aku merasa tenggorokanku seperti ada lendir, aku meminum obat flu biasa (usahakan disertai antibiotik yaa—jangan takut untuk minum antibiotik karena ini akan membantu tubuh kalian melawan virus, karena covid-19 ini bukan virus biasa). Dan juga, ketika aku merasakan mulai ada batuk, aku meminum obat batuk. Tidak perlu ke dokter, minum saja obat batuk biasa. Kalau aku, aku hanya minum obat batuk hitam biasa (OBH herbal yang disertai flu).

Itu saja sih, Guys. Tergantung bagaimana kita me-maintain tubuh kita sendiri agar virus atau bakteri lain segera pergi dari tubuh kita dengan tetap terus menjaga imunitas tubuh. Kalian bisa mencontoh apa yang aku tuliskan tadi atau kalian punya cara sendiri ya tidak apa-apa. Tapi sebelumnya, pastikan yang kalian makan atau minum tidak berbahaya bagi tubuh yaa. Kalau semisal kalian ragu, kalian bisa men-download aplikasi kesehatan (seperti halodoc atau yang sejenisnya) untuk konsultasi tentang obat kepada dokter yang kalian pilih. Lalu, semisal jika ada obat yang ingin kalian beli (ini yang ku bicarakan untuk aplikasi halodoc, yaa, karena sesuai pengalaman aku) kalian juga tinggal beli dari aplikasi tersebut dan diantar ke rumah kalian.


Dua Minggu Kemudian…..

Hari ini, tepat pada tanggal 8 Januari 2021 (aku merayakan pergantian tahun 2021 dengan karantina mandiri, God!) aku kembali melakukan test swab di rumah sakit yang sama pada saat aku melakukan test swab yang pertama. Kulihat suasana rumah sakit itu memang megah dan mewah, namun aku sedikit trauma memasukinya. Entah karena pengalaman burukku saat aku menerima hasil swab beberapa hari sebelumnya atau apa. Yang jelas, aku tidak akan mau kesana lagi jika tidak ada perlunya.

Baiklah, aku mulai mengambil nomor antrian. Setelah mendaftarkan namaku, aku mendapatkan nomor antrian di 220—sementara antrian yang tengah berlangsung saat itu masih menunjukkan nomor 135. Artinya, aku harus rela menunggu sekitar hampir ratusan orang lebih disana!! God, please!! Para antrian swab itu ditempatkan di beranda rumah sakit yang tidak ada pendingin ruangan sama sekali. Hanya dipenuhi kursi-kursi di halaman depan tempat biasa para mobil menurunkan penumpang yang akan memasuki rumah sakit. Untungnya beranda itu tidak panas dan lumayan sejuk karena di halaman yang lebih depan lagi—di dekat lapangan parkir motor—dipenuhi dengan pepohonan (rekaman ada di video tiktok di menu blog ini, bisa dicek disana yaa).

It’s okay, ini resiko yang harus aku ambil, dan aku tidak bisa mundur atau pun membatalkannya. Semua harus aku hadapi seorang diri! Tapi, tidak juga. Sembari menunggu duduk di kursi krusial itu aku ditemani olehnya. Bukan ditemani secara fisik—karena dia tidak terinfeksi dan dilarang ke tempat swab tersebut karena ditakutkan akan terpapar juga—tapi, dia terus saja meneleponku menanyakan kabarku. I said I’m Okay. Begitulah, namun jauh di dalam hati aku menangis. Dalam hatiku jelas aku jauh dari kata ‘tidak apa-apa’. Selama hampir sebulan aku tidak bisa melihat dunia luar!

Sekitar tigapuluh enam jam keesokan harinya, aku meminta hasil swab-ku itu dikirim melalui e-mail karena aku tidak sanggup jika harus bolak-balik ke rumah sakit tersebut yang memang lokasinya sangat-sangat jauh dari tempatku tinggal.

Daann, hasilnya alhamdulillah negatif!!

Hasil Swab tanggal 8 Januari 2021

Hampir saja aku teriak sambil loncat-loncat, tapi tidak sampai sih! Aku berusaha bersikap elegan, hehe. Namun, perasaanku sungguh-sungguh lega bercampur bahagia. Jadi, seperti ini rasanya sebuah kelegaan yang teramat sangat. Thanks, Allah! 🙂

Tapi memang, sih, beberapa hari sebelumnya, aku bisa merasakan perbedaan pada kondisi tubuhku yang berangsur pulih, berangsur membaik—aku tidak lagi merasakan meriang-meriang yang tidak jelas, indera penciuman dan perasaku sudah kembali normal, dan aku tidak lagi merasakan pusing dan badan panas yang tidak kunjung reda seperti kemarin-kemarin. Dan, aku merasa tubuhku benar-benar sehat—bukan sehat, tapi sebenarnya sakit.

Namun, tetap diingat yaa, virus ini akan benar-benar mati di hari ke-28 sejak kalian pertamakali terinfeksi.

— MYSELF

Jadi, walaupun sudah negatif dan tidak ada indikasi apapun, tetap patuhi protokol kesehatan dan selalu jaga diri masing-masing, serta tidak melakukan kegiatan yang sekiranya akan mengundang para virus dan bakteri menginfeksi tubuh lagi.

Aku pribadi sih, rasanya aku trauma keluar rumah dan jadi sedikit parno ketika harus melakukan kegiatan apapun—apalagi jika harus bertemu orang asing. Setidaknya, aku selalu pakai masker berlapis ketika aku terpaksa harus keluar rumah untuk hanya sekedar beli beras.

Tapi, baru-baru ini vaksin covid-19 atau yang lebih dikenal dengan sinovac sudah masuk ke Indonesia, kan? Harapanku dan juga semua lapisan masyarakat lah, dengan adanya vaksin tersebut kasus penyebaran covid-19 ini bisa ditekan.

Aku sendiri, sebagai covid-19 survivor, tidak ingin kejadian serupa menimpa siapapun di negeri ini—terlebih orang-orang terdekat kita, orang-orang yang kita sayang—meskipun tersiar kabar bahwa masyarakat yang sudah pernah terinfeksi covid-19 akan berada di garda paling belakang untuk menerima vaksin ini, aku tetap berharap bahwa pandemi ini segera berakhir. Tidak ada lagi korban. Tidak ada lagi tangis dan ketakutan.

Amin.

5 Komentar

  • Penghuni 60

    Alhamdulillah… syukurlah kalo hasilnya sudah negatif… tp ttp jaga protokol kesehatan ya mbak…
    BTW, blogku yg barusan mbak kunjungi emang lg jarang update.. kalo berkenan mampir ke blogku yg lain ya… kesini nih:
    penghuni-60.blogspot.com
    atau
    penghuni60sains.blogspot.com

    Slam buat keluarga di rumah… spesial buat dedek bayinya… potonya dipajang gak ya diblog ini? ^_^

    • SOTYASARI DHANISWORO

      Iya mass, alhamdulillah.. 🙂
      Pastiiii selalu..
      Oh ada lagi yang lain? Pantes aja sih, terakhir postingan kok masih sekitar pertengahan 2020.
      Okayy dehh, aku pasti mampir ntar.

      Siapp, akan aku sampaikan.
      Hehe, iyaahh, fotonya nyusul yaa, tapi kalo mau liat videonya ada di panel tiktok di blog ini… 🙂

  • faded

    woow…lagi surfing penyintas CV19 ga nyangka ktemu kamu… after a..very long time..not seen.btw welldone yah dah survived. aku lagi terisolated nunggu hasil pcr

    • SOTYASARI DHANISWORO

      Haloo,
      Iyaa, terimakasih udah visit.., apapun hasilnya pokok jangan stress berlebih. I know, memang akan tetap stress walaupun banyak yang bilang “Jangan stress, jangan stress” tapi yang namanya terkena penyakit berbahaya, jiwa kita yang merasa takut.
      Tapi tenang aja, selalu tanamkan pikiran positif bahwa ‘aku harus sembuh’! Itu aja sih.
      Oh ya btw, dulu pernah mampir ke blog aku sebelumnya??

  • faded

    helllo…
    aku sudah bebas cv n udah vaksin jg… so..no need to worry …

    actually a long time ago I was in Ure real life whether about 4 or 5 years, its a shame we were separated.
    but like you said for the good of everyone 🙏🏻
    N maybe it’s a Fate
    after all,
    Forgive all my mistake in a past, keep the enthusiasm for the future and take care of Ure health.
    regards

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please, do not copy!!