Activity,  blogging,  covid-19,  Healthy,  menulis,  online,  pekerjaan,  wabah

Berteman dengan Covid-19

Banyak masyarakat yang bilang bahwa ‘corona itu nggak ada!’ atau ‘santai aja, kita nggak akan kena Corona’. Anggapan seperti itu aku nilai bodoh!! Kenapa aku bilang bodoh, ya karena orang-orang seperti itu nantinya akan menyebabkan masyarakat di sekitarnya jadi abai akan protokol kesehatan yang dianjurkan agar rantai penyebaran Covid-19 ini tidak meluas. Aku sendiri beberapa waktu lalu melakukan rapid test di kantor tempatku bekerja dan hasilnya reactive. Kemudian aku segera dianjurkan untuk melakukan test PCR swab untuk mengetahui kelanjutan kondisiku—apakah memang benar terinfeksi virus Covid-19 atau tidak. 

Setelah menunggu beberapa jam, aku pun mengambil hasil swab dan memang ternyata hasilnya positif. Betapa hancur hatiku melihat kenyataan itu. Karena, mungkin memang aku tidak memikirkan diriku sendiri, tapi aku lebih memikirkan bagaimana dengan keluarga kecilku, terlebih bayiku. Aku tidak bisa membayangkan. 

Hasil Swab PCR tertanggal 21 Desember 2020

Aku juga sempat berkonsultasi dengan dokter tempatku melakukan test tersebut dan dokter mengatakan bahwa kondisiku masih bisa ditoleransi dengan perawatan kesehatan rutin demi meningkatkan daya tahan tubuh, terus mengonsumsi vitamin C, dan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna. Meskipun masih dalam tahap bisa ditoleransi namun tidak menutup kemungkinan bisa menularkan kepada orang lain. Sungguh, aku benar-benar takut. Akhirnya, beberapa hari ini aku berusaha mencari berbagai tulisan atau literature mengenai Covid-19 dan berbagai macam cara mengatasinya. Ternyata memang tidak terlalu ribet, tapi sulit bagiku untuk diterapkan. 

Beberapa artikel yang kubaca rata-rata menunjukkan bahwa penderita Covid-19 harus mengonsumsi buah dan sayur—salah satunya yang menjadi komponen yang paling penting demi meningkatkan imunitas tubuh. Nah!! Aku pribadi sungguh tidak bisa makan buah ataupun sayur-sayuran, kecuali jika sayur-sayuran itu dimasak menjadi beberapa hidangan makanan yang kebetulan aku sukai. 

Kemudian juga, sebuah artikel kesehatan yang membahas tentang penderita Covid-19 dan beberapa obat yang biasa digunakan para dokter untuk penyembuhan mereka adalah vitamin C dosis tinggi. 

Awalnya memang aku jarang sekali mengonsumsi vitamin C—meskipun itu diberikan secara cuma-cuma oleh pihak kantor setiap pagi. Tapi, karena aku jarang sarapan, maka vitamin-vitamin itu pun cuma numpang lewat dari meja lalu langsung masuk ke laci. 

Betapa bodohnya aku tidak mengindahkan pesan-pesan agar selalu mengonsumsi vitamin selama keadaan genting seperti ini. Tapi, apapun itu semoga semua ini segera berakhir. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please, do not copy!!