Activity,  blogging,  hobi,  humanity,  Lifestyle,  menulis,  Real Story,  Relationship

Life is not as Bitter as a Cup of Coffee

Jika kau merasa bahwa hidup ini sederhana atau bahkan mungkin tak sesederhana seperti yang dikatakan sebagian orang—itu sah-sah saja. Tak ada yang melarang kita berpendapat apa atau pun bagaimana, karena negeri kita saja menerapkan Undang-Undang tentang kebebasan berpendapat, kan? Tapi, inti permasalahannya bukan itu. Ini tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya—dan bagaimana mereka mendapatkan keadilan yang semestinya.   

Karena, terkadang ada beberapa di antara insan manusia itu yang merasa bahwa hidup ini sungguh tidak adil. Konon katanya, memang dunia itu tidak adil, dan hidup itu seperti bertempur di dalam hutan belantara (nah loh!).  

Yang kuat akan menang, dan yang kalah akan berkalang tanah. 

Keluarga kecilku. Semangatku.

Tapi, selalu ingatlah bahwa manusia itu hanya makhluk lemah; yang cuma bisa berharap akan adanya keajaiban pada alur kehidupannya. Begitu juga aku. Aku selalu merasa bahwa hidupku tidak adil. Apa yang terjadi padaku rasanya selalu tidak pada tempatnya, dan wajar jika aku tidak terima—hingga aku merasa bahwa semuanya rasanya pahit, sepahit kopi hitam.    Aku sadar kalau aku harus bersyukur dengan apa yang aku dapatkan hingga detik ini. Kendati aku beranggapan bahwa hidupku sepahit kopi hitam, pada kenyataannya ada sebagian kecil dari hidupku yang menghamburkan aroma manis—bahkan sungguh sangat manis.   

Aku memiliki keluarga kecil bahagia. Aku memiliki suami yang sungguh sangat perhatian padaku; yang tak pernah sekali pun memprotes dengan apa pun yang aku lakukan. Dan, aku memiliki tiga orang malaikat kecil yang bisa menghapus setiap air mataku. Aku bangga pada mereka, keluarga kecilku. Semangat hidupku. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please, do not copy!!