cinta,  daily,  hidup,  kisah,  menulis,  Real Story,  Relationship

Sesuatu yang Tidak Kau Tahu

Siapa pun pasti memahami bagaimana rapuhnya hati seorang wanita. Sekuat apa pun mereka berkata dan menegaskan bahwa mereka kuat, akan selalu ada yang rapuh—bahkan mungkin hancur—jauh di dalam sana. Sesuatu yang mungkin tak pernah kau tahu, bahwa menangis memang sudah menjadi kodrat setiap wanita. Ada luka yang dibasuh tiap kali mereka meneteskan air mata.

Gambar Ilustrasi of Our Love

Banyak yang bilang bahwa kecantikan seorang wanita itu akan terpancar dari hati yang murni. Aku pun memahami, bahwa cantik secara fisik saja tidak cukup. Melainkan juga cerminan hati dan jiwa serta bagaimana mereka berperilaku.

Entahlah, terkadang aku lelah mendengar wejangan-wejangan semacam itu. Terkadang aku merasa bahwa hidupku mendekati sempurna secara nyata. Namun, aku merasa ada yang hilang dari sesuatu yang mendekati kesempurnaan itu. Aku tidak bahagia.

Bahagia itu sederhana, jika ada kau di sampingku…

Seseorang yang aku sayang; seseorang yang aku cinta…

Seseorang yang membuatku rela melakukan apa pun, mengorbankan segalanya, hingga merelakan hati yang sudah nyaris hancur ini terkikis sedikit demi sedikit karena rasa kecewa dan luka yang tak kunjung bisa ku sembuhkan. Toh, nyatanya aku masih sanggup bertahan, atas nama cinta…

Tidak juga ku mengerti apa yang membuat beberapa di antara mereka datang padaku menawarkan sebentuk cinta yang berbeda-beda. Namun, tak ada satu pun yang bisa ku pilih.

Mulai dari sebentuk cinta yang menawarkan ketulusan bathin, kemurnian, dan kepolosan, namun ada pihak yang tidak mengizinkan kami bersama. Kemudian, sebentuk cinta yang tak pernah aku duga akan datang menyapaku ketika kupikir ia telah berlalu. Cinta masa lalu yang tak sempat kumiliki—dan kini bisa kumiliki—meski dengan segudang problema yang harus aku telan bak pil pahit; masalah perasaan yang terpendam, ekonomi, kehidupan yang rumit, dan masih banyak lagi.

Lalu, sebentuk cinta yang datang dengan tanpa aku sadari. Cinta yang ditawarkannya padaku sungguh-sungguh membuatku tertekan. Aku merasa seolah hidup dalam sebuah belenggu; membatasi ruang gerak yang seharusnya bisa kumiliki dengan lebih lagi.

Dan, yang terakhir, sebentuk cinta berbalut ketulusan, penuh kasih sayang, perhatian, dan kesungguhan yang tak pernah diberikan oleh siapa pun yang mengaku memberiku cinta; yang membuatku ingin memiliki sebentuk cinta itu, namun terhalang oleh sebuah dinding tebal nan kokoh bernama ‘keluarga’. Ya, sosok yang memberiku cinta dan kasih sayang itu telah berkeluarga. Meski aku merasa ‘lebih’ dibandingkan istrinya, tapi aku tak bisa memaksakan keinginanku. Aku harus menerima semuanya dengan hati yang benar-benar lapang dan ikhlas.

Tak ada satu pun yang terbaik yang bisa kupilih. Satu-satunya yang kuinginkan hanyalah cinta yang bisa membuatku bahagia, meski harus kecewa berulang kali dan merasakan rasa sakit yang amat sangat; sehingga jika sampai ada sebuah toko yang menjual hati cadangan, aku akan membelinya dalam jumlah besar—agar aku tak perlu merasakan sakit dan perih saat hatiku terluka (lagi).

Aku mungkin bodoh—setidaknya itu yang teman-temanku katakan—namun aku tidak peduli. Aku telah mencintainya sungguh dalam, dan aku tak ingin semuanya hancur berkeping-keping; layaknya kisah cintaku beberapa tahun lalu yang lantas hancur berkeping-keping karena nila setitik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please, do not copy!!