kasus umum,  komunitas,  Lifestyle,  lingkungan,  menulis,  Neighbourhood

Diskriminasi

Apa itu diskriminasi? Jika dibahas rasanya agak janggal. Dalam pikiranku, atau mungkin juga semua orang yang menentang diskriminasi, mungkin berkata, “Hari gini masih ada diskriminasi? Tahun berapa nih?” Seperti hidup di jaman dimana kesemuanya masih dibawah otoritas tertentu. Tapi, mungkin memang benar begitu atau sistem itu sudah berubah seiring dengan silih bergantinya pemerintahan? Entahlah. Namun, yang pasti diskriminasi itu jelas masih merajalela hingga saat ini.

Diskriminasi memang bisa dilihat dari banyak bentuk, dan tergantung dari jenis diskriminasi apa dan di lingkungan yang bagaimana. Jelas, orang per orang yang menjadi korban diskriminasi atau mereka yang diperlakukan secara berbeda dari orang lainnya akan merasa tidak nyaman. Orang-orang seperti ini cenderung murung dan menyendiri. Mereka akan selalu merasa tidak percaya diri dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas sumber dayanya. Terutama, jika orang-orang ini adalah masyarakat yang tergolong dalam usia produktivitas aktif, yakni mereka yang berada dalam rentang usia 20 hingga 35 tahun.
Padahal Undang-Undang negara yang mengatur soal penghapusan diskriminasi sudah jelas-jelas diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Tapi, kok ya masih ada saja di berbagai tempat-tempat di wilayah negeri ini yang masih mengagungkan diskriminasi seperti ini. Atau, mungkinkah sebagian dari mereka tidak paham tentang hak asasi manusia? Karena, hal ini pun sedikit banyak berkaitan dengan hak asasi manusia.Cukup merisaukan sebenarnya. Tapi toh, banyak dari mereka tidak memahamiya. Banyak pula dijumpai pemberlakuan diskriminasi yang berakibat buruk pada jiwa dan psikologis pada korban diskriminasi. Hingga pada akhirnya banyak pula dijumpai dari mereka para korban mencetuskan kalimat berbahaya, “Jadi, kalo aku mati, nggak ada yang peduli juga?” 
Seharusnya, jika mereka sadar akan hukum dan sisi psikologis manusia, diskriminasi tak perlu terjadi. Toh, untuk apa? Tidak ada manfaatnya. Yang ada hanyalah kerugian – rugi fisik, rugi pikiran, dan rugi tenaga, yang seharusnya ketiganya bisa digunkan untuk memikirkan hal lain.
Jadi, masih perlukah diskriminasi dipertahankan??

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please, do not copy!!