cinta,  daily,  hidup,  kasus umum,  masa lalu,  menulis,  pekerjaan,  Real Story,  secret

A Freak and Sweet at 2010

Tahun ini adalah tahun 2010 yang mengesankan sekaligus menakutkan bagiku—sampai-sampai aku harus mengendalikan diriku sampai di akhir tahun ini aku semakin bisa mengendalikamn. Entah apa yang terjadi padaku, aku seolah ‘bermain api’ dengan keadaan yang terjadi di sekelilingku. Aku seperti sosok yang bukan diriku karena telah berusaha memanfaatkan keadaan yang memang sudah tidak sehat—padahal itu bukan aku banget.

Menurutku, banyak sekali yang seolah tetiba saja menjelma menjadi suatu penyebab sampai akhirnya aku bisa ‘bermain api’ hingga sampai di satu titik berbahaya itu.

Banyak sekali faktor yang bisa saja menyebabkan aku menjadi seperti ini. Salah satunya mungkin adalah kehidupan rumah tanggaku yang mulai amburadul. Memiliki seorang suami tapi berasa sendirian. Mungkin aku yang terlalu tinggi mengkhayal bahwa jika setelah menikah aku akan memiliki hidup yang ku inginkan dan ku impikan. Tapi, pada kenyataannya itu cuma mimpi di siang bolong belaka. Usiaku masih 26 tahun, tapi aku sudah harus mengalami kehidupan pelik macam begini. Ingin rasanya waktu kuputar kembali dan aku tidak harus menikah di usia muda seperti ini. Disaat rata-rata temanku masih sibuk menambah pundi-pundi uang mereka dengan bekerja, sementara aku harus di rumah saja mengurus suami dan anak. Seperti ada perasaan tidak terima yang menguasai diriku. Kupikir hidup sudah berlaku tidak adil padaku.

Pada awalnya, kupikir suamiku bisa menyanggupi segala apa yang kuinginkan. Tapi itu semua cuma manis di awal. Iya lah, kan semua memang selalu seperti itu. Tak pernah ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Ketika aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang cukup bagus, suamiku seolah cemburu dengan penghasilanku yang jauh diatas dia. Mungkin sebagai seorang suami, dia merasa tersaingi dan seperti tidak bisa menerima keadaan. Lalu, ia pun memintaku untuk resign dari pekerjaanku. It’s okay, aku menyanggupinya. Tapi, tak berapa lama setelahnya, ia sudah mulai jarang pulang dan kalau pun pulang itu pun sekitar jam tiga atau empat subuh. Aku mulai curiga.

Ilustrasi Cinta Terlarang

Kecurigaanku menguat saat suamiku sudah mulai jarang pulang ke rumah—dengan alasan pulang ke rumah orangtuanya yang memang berjarak tak jauh dari rumahku. Pada suatu ketika, aku tidak sengaja menemukan ponselnya tergeletak di meja riasku—padahal sebelum-sebelumnya ia tak pernah membiarkan ponselnya diletakkan di sembarang tempat. Dalam hati, aku berharap semoga ponselnya tidak dikunci.

Ternyata benar! Rasanya suamiku lupa mengunci ponselnya karena mungkin ia terlalu capek dan mengantuk. Dan, betapa terkejutnya aku saat membuka kotak masuk di ponsel tersebut. Banyak sekali SMS-SMS mesra dari seseorang yang sepertinya seorang gadis. Seketika kepalaku terasa sangat pusing demi melihat apa yang terjadi. Saat kutanya gadis itu siapa, suamiku hanya bilang bahwa mungkin saja gadis itu salah kirim. Oke baiklah, alasannya masih bisa kuterima. Tapi, jika terulang lagi, maka tidak lagi bisa kumaafkan.

Di sisi lain, aku juga memiliki seseorang lain yang notabene-nya mantan terindah bagiku. Ian, sang penguasa hatiku. Aku masih belum bisa melupakannya. Kendati ia sudah memiliki istri dan wanita tersebut—menurut pengakuannya—tengah hamil anak kedua mereka, aku toh tidak peduli. Aku tetap masih mencintainya; apapun yang terjadi. Saat aku meninggalkannya karena aku harus menikah dengan suamiku ini, aku sempat berada dalam satu kamar dengannya dalam sebuah hotel yang kami sewa. Entah apa yang terjadi padaku, aku seolah tidak menghiraukan bahwa cinta kami adalah cinta terlarang. Kami seolah dimabuk asmara.

Tiga bulan berlalu sejak aku berpisah ranjang dengan suamiku; sementara aku masih tetap melanjutkan hubungan terlarangku dengan Ian saat aku sudah kembali bekerja di ssbuah perusahaan milik asing. Awalnya, niatku memang hanya membalaskan dendamku pada suamiku karena pengkhianatannya dengan seseorang yang dengan kukuh disebutnya hanya sebatas rekan kerja semata. Namun pada akhirnya, aku semakin tenggelam dan terbakar karena permainan apiku sendiri. Beberapa minggu setelah aku terus-terusan berhubungan dengan kekasih gelapku itu, aku ternyata hamil!

Aku panik! Apa kata orang jika aku sudah lama tidak bersama dengan suami sahku, tapi aku hamil? Pikiranku sangat kalut, dab aku benar-benar bingung setengah mati. Aku memang sudah memberitahukan hal ini kepada Ian. Alih-alih dia akan bertanggungjawab dan menikahiku, tapi dia malah bingung dan memintaku mencari dukun bayi untuk menggugurkan kandunganku; anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri. Aku sebenarnya sangat berat untuk mengikuti permintaannya. Aku ingin mempertahankan bayiku hasil hubunganku dengannya, tapi di sisi lain, aku juga tidak ingin membuat malu keluargaku.

Alhasil, aku mengumpulkan semua tabunganku untuk menggugurkan kandunganku dan dia pun menjual perhiasan milik istrinya untuk menambah biaya menggugurkan kandungan di dukun bayi—yang biayanya sekira lima juta lebih. Tapi, untung saja dukun bayi itu ternyata adalah teman dekat kekasihku, sehingga biayanya bisa agak dikurangi sedikit.

Aku takut sekali, Tuhan! Bagaimana jika dalam proses aborsi itu aku tidak selamat? Mungkin, aku terlalu banyak menonton televisi tentang kisah aborsi, dan pikiranku sudah dihantui pandangan-pandangan negatif tentang aborsi—dimana jika dalam proses aborsi itu tidak dilakukan oleh pihak yang tidak berpengalaman, maka taruhannya adalah nyawa!

Yaa mungkin, aku terlalu takut akan pikiranku-pikiranku sendiri. Tapi, ini semua memang buah dari kesalahanku, yang mengakibatkan diriku sendiri tercebur dalam lingkaran hitam.

Proses aborsi itu memakan waktu sekitar lima jam lebih. Aku ingat bahwa aku izin pulang dari kantor sekitar pukul duabelas siang dan aku selesai melakukan proses aborsi sekitar pukul empat atau lima sore—entahlah, aku tak seberapa ingat karena mereka menutup mataku dengan kain yang supergelap agar proses aborsi dan lokasi kliniknya tidak menyebar ke publik, mungkin.

Aku merasa perutku seolah dimasuki sendok yang dipakai untuk mengeruk sesuatu di dalam sana; hanya itu yang kurasakan sebelum akhirnya aku pingsan tak sadarkan diri selama beberapa menit.

Setelah selesai, aku diantar pulang oleh seseorang yang masih tidak mau diketahui publik, baik wajah dan lokasi kliniknya. Aku hanya diantar sampai ke tempat pangkalan taksi dan orang tersebut benar-benar memastikan aku naik ke dalam taksi dan menjauh dari lokasi klinik aborsi tersebut. Tapi, syukurlah, aku masih diberikan kesempatan untuk hidup dan bertaubat setelah menjalani operasi aborsi itu.

Saat berada di rumah, kurasakan tubuhku sangat lemas sekali dan ada rasa nyeri di bagian alat vitalku. Tapi, itu semua demi menghilangkan janin dalam rahimku. Ada sedikit perasaan sesal dalam hatiku. Seandainya saja, aku masih bersama dengan suamiku, maka aku tak perlu menggugurkan buah cintaku dengan Ian ini. Tapi, ya sudahlah, semoga saja Ian masih tetap mencintaiku seperti sediakala dengan hilangnya calon bayi kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Please, do not copy!!